{"id":3280,"date":"2016-04-24T10:25:38","date_gmt":"2016-04-24T10:25:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/project\/episode-two-to-cry-or-not-to-cry\/"},"modified":"2024-05-18T18:22:44","modified_gmt":"2024-05-18T18:22:44","slug":"episode-two-to-cry-or-not-to-cry","status":"publish","type":"project","link":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/project\/episode-two-to-cry-or-not-to-cry\/","title":{"rendered":"EPISODE DUA: Menangis atau Tidak Menangis"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_post_title meta=&#8221;off&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_post_title][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.24.0&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>Setelah nyaris tak bertahan selama lebih dari setengah abad dalam halusinasi kehidupan ini\u2014melakukan perjalanan ribuan mil di jalan-jalan paling berbahaya di tempat seperti India dan Bhutan, terbang ratusan ribu mil keliling dunia dengan pesawat rapuh, mencicipi entah makanan jenis apa yang dijajakan oleh pedagang di Bangkok atau racun yang disamarkan sebagai makan malam di hotel Peninsula\u2014aku baru menyadari bahwa bisa menangis adalah sebuah anugerah.<\/p>\n<p>Melihat cucuran air mata, apalagi anak-anak, dan khususnya anak perempuan, masih melekat dalam kesadaranku selama bertahun-tahun. Suatu kali Claudia mengantarku ke bandara Sydney dan putrinya Sachiko, yang baru berusia beberapa bulan, menangis meminta perhatian di kursi belakang. Namun kami tidak dapat berbuat apa-apa karena kami tengah menyetir di jalan raya yang sibuk. Terkadang pemandangan itu masih kembali menghantuiku. Aku berharap rasa takut diabaikan tidak tertanam dalam diri Sachiko pada hari itu.<\/p>\n<p>Di lingkungan tempatku dibesarkan, anak-anak yang tidak menangis dipuji oleh orang dewasa. Jadi aku bangga menyimpannya dan tidak menjadi banci. Aku bahkan tak menitikkan air mata ketika aku dibawa pergi dari kakek dan nenekku ke asrama. Bahkan di hari penting tak lama setelah itu, ketika aku dibawa pergi dari sekolah dan rumah selamanya, aku berhasil menahan air mataku, meski itu susah. Pada hari itu, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada kakek nenek dari pihak ibu yang telah membesarkan aku dan berangkat ke Sikkim, yang jaraknya sangat jauh, lebih dari yang dapat kubayangkan. Tak ada yang bilang tentang akan kembali. Secara geografis Sikkim tidak terlalu jauh dari Bhutan bagian timur, namun jarak, ketinggian, dan waktu semuanya relatif dan dapat berubah tergantung pada perubahan perspektif seseorang. Dari sudut pandang seorang anak berusia lima tahun, tak ada yang lebih jauh dari Sikkim.<\/p>\n<p>Aku pernah mendengar orang-orang membicarakan tempat-tempat seperti Sikkim dan Nepal, tetapi tidak pernah terpikir olehku bahwa aku sendiri akan berkesempatan untuk pergi ke sana. Jarang sekali ada pesawat terbang melintas dan semua orang berebut keluar untuk melihatnya. Mereka akan berdiam lama setelah pesawat berlalu, mengamati jejak putih menoreh langit. Dan selama berhari-hari kami akan mengobrol tentang bagaimana rasanya di atas sana. Aku berasumsi aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk terbang karena itu hanya untuk orang-orang penting dan kaya. Suatu ketika seorang anggota keluarga datang dan mengaku dia telah naik pesawat. Dia menceritakan kisahnya pada waktu makan malam di dapur tempat kami semua makan di sekitar perapian, dan bukan hanya aku yang terpesona, orang dewasa pun mendengarkan dengan penuh perhatian. Malam demi malam, kerabat ini menceritakan pengalamannya di langit.<\/p>\n<p>Lalu, ketika tiba saatnya aku pergi ke negeri jauh bernama Sikkim, melalui jalan darat, oh, nenekku tidak dapat menahan air matanya. Aku ingat kakek memarahi nenek karena, katanya, ekspresi emosi nenek tidak membawa keberuntungan. Melihat orang dewasa menangis, apalagi seseorang yang sangat kuhormati, tentu membuat kesan tersendiri dalam diriku karena itu menjadi kenangan yang paling kuingat dari sedikit kenangan tentang nenek yang kumiliki.<\/p>\n<p>Di kemudian hari aku sadar, banyak sekali alasan orang menangis, termasuk orang yang paling kuhormati di dunia ini, bukan hanya saat mereka sedih atau takut.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-116 alignleft\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/dudjom-254x300.jpeg\" alt=\"dudjom\" width=\"254\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/dudjom-254x300.jpeg 254w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/dudjom.jpeg 450w\" sizes=\"(max-width: 254px) 100vw, 254px\" \/><\/p>\n<p>Aku punya ingatan yang kabur dan terfragmentasi tentang pengeras suara sejak pertama kali aku bertemu Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche. Aku berusia kurang dari satu tahun dan aku dibawa ke Darjeeling, dimana kakek dari pihak ayah Kyabje Dudjom Rinpoche memberikan transmisi Kangyur[1]. Untuk memberi transmisi beliau harus membaca sekitar 70.000 halaman teks dengan suara keras, yang memakan waktu berbulan-bulan. Mungkin hal terbesar yang pernah dicapai oleh peradaban Tibet adalah menerjemahkan, melestarikan, meneruskan transmisi, dan mengajarkan Kangyur.<\/p>\n<p>Aku kemudian mengetahui bahwa kakekkulah yang bersikeras agar aku menerima transmisi ini meski saat itu aku masih bayi. Dan bukan hanya beberapa bagian saja; beliau menyuruh ibuku untuk tidak membiarkanku tidur walau hanya sesaat. Jika aku tertidur atau rewel, dia akan menghentikan transmisi dan memberiku permen agar aku tidak melewatkan satu kata pun. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menggunakan fakta ini untuk memanipulasiku agar aku memberikan transmisi Kangyur. Dan aku melakukannya, dengan menyakitkan, di Chauntra di Dzongsar Shedra, yang secara permanen merusak penglihatanku.<\/p>\n<p>Di situlah Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche datang untuk menerima sebagian transmisi dari Kyabje Dudjom Rinpoche dan untuk pertama kalinya aku bertemu beliau. Aku ingat dengan jelas aku tertarik pada seorang pria yang duduk di singgasana, jelas bukan kakekku. Aku bersikeras untuk mendekati Rinpoche. Hal ini kemudian dibenarkan oleh bibiku, yang mengatakan bahwa meskipun aku masih sangat muda, aku sangat fokus pada Dilgo Khyentse Rinpoche.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-117 alignright\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/khandro-290x300.jpg\" alt=\"khandro\" width=\"290\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/khandro-290x300.jpg 290w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/khandro.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 290px) 100vw, 290px\" \/>Kali kedua aku bertemu Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche ingatanku jauh lebih jelas. Aku berumur lima tahun, tepat setelah aku meninggalkan kakek nenekku, dan dalam perjalanan ke Khyentse Labrang di Istana Gangtok\u2014juga dikenal sebagai Tsuklakhang atau Kapel Istana\u2014di Sikkim, di mana aku akan dinobatkan sebagai tulku dari Dzongsar Khyentse Ch\u00f6kyi Lodr\u00f6 dan tempat aku tinggal selama bertahun-tahun yang akan datang. Lokasi labrang dengan murah hati dipersembahkan kepada Khyentse Ch\u00f6kyi Lodro oleh Raja Sikkim, Tashi Namgyal dan putranya, putra mahkota Palden Thondup Namgyel, pada akhir tahun 1950-an. Sejak itulah Khandro Tshering Ch\u00f6dr\u00f6n tinggal di Tsuklakhang.<\/p>\n<p>Kelompok kami melakukan perjalanan dari Bhutan dengan jip Mahindra yang bobrok. Aku merasa seperti pria sejati karena aku tidak menangis ketika mengucapkan selamat tinggal pada hidup yang aku tahu selama ini. Aku menantikan hidup selanjutnya. Ketika kami sampai di persimpangan jalan di Singtam, ada banyak orang yang berkumpul di sana untuk menerimaku. Para pelayan dan sopirku menjadi bingung dan gugup, lalu menutup jendela. Seseorang berkata, \u201cKyabje Dilgo Khyentse Rinpoche ada di sini untuk menerima Anda.\u201d Saat jip melambat di tengah kerumunan orang yang memegang <em>khata<\/em>, aku melihat Rinpoche berdiri di sana di tengah awan persembahan asap yang berputar-putar. Beliau sangat tinggi dan agak langsing, tidak sebesar beliau di kemudian hari, dan beliau mengenakan jubah yang indah. Belakangan aku diberitahu bahwa tak ada seorang pun yang pernah melihatnya mengenakan jubah seperti itu dan bahkan ada yang curiga bahwa beliau meminjam pakaian untuk resepsi karena beliau sangat miskin pada saat itu.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-118 alignleft\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/greeting-300x237.jpg\" alt=\"greeting\" width=\"300\" height=\"237\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/greeting-300x237.jpg 300w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/greeting-768x607.jpg 768w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/greeting-1024x810.jpg 1024w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/greeting-1080x854.jpg 1080w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Aku hanyalah seorang anak kecil tetapi Rinpoche memperlakukanku dengan penuh rasa hormat. Upacara nasi safron dan teh mentega dipersembahkan, dan tiba saatnya melanjutkan perjalanan ke Gangtok. Aku harus berpindah dari jip yang berdebu ke sedan putih Eropa yang cantik ini. Ini pertama kalinya aku mengendarai mobil buatan Eropa. Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche masuk terlebih dahulu dan aku ditempatkan di pangkuannya.<\/p>\n<p>Saat itulah semuanya dimulai. Hampir dua jam perjalanan dan Khyentse Rinpoche menangis seperti anak kecil sepanjang perjalanan, pria raksasa yang begitu dihormati oleh semua orang, benar-benar larut dalam air mata. Bertahun-tahun kemudian, aku mendengar bahwa beliau memberi tahu orang-orang bahwa sejak beliau melihatku di Singtam hingga beliau tiba di istana, beliau benar-benar merasakan kehadiran Khyentse Ch\u00f6kyi Lodr\u00f6 dengan sangat jelas, seolah-olah tidak ada yang berubah, dan beliau tak dapat menahan diri.<\/p>\n<p>Tak lama setelah itu, Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche mulai mengajar dan memberikan inisiasi. Di Tashiding, Sikkim bagian barat, beliau memberikan ajaran berharga yang sangat penting tentang siklus Lama Gongdu. Sekali lagi, aku menyaksikan dengan kagum ketika dia tiba-tiba menangis di tengah-tengah pengajaran. Beliau memanggil pelayannya\u2014ada seorang bernama Shedrup\u2014yang juga menangis. Beliau segera membawakan syal yang sangat panjang, yang dikalungkan Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche di leherku.<\/p>\n<p>Biasanya Rinpoche seperti gunung, tidak ada yang menggerakkannya, tidak ada yang membuatnya bingung. Beliau adalah orang terakhir yang kamu harapkan menangis. Ini adalah seorang pria, tingginya enam kaki, sebelas inci, dengan darah dan tulang dari beberapa pejuang paling terkenal di Kham, Tibet Timur, kakeknya adalah menteri Raja Derge. Beliau mewarisi keberanian dan keanggunan mereka dan begitu agung, kita tidak akan pernah selesai membicarakan kualitasnya yang luar biasa. Namun aku ingat beberapa kali Rinpoche menangis, kadang-kadang bahkan menangis dan meratap seperti anak kecil, sungguh terisak-isak dengan suara huhuhu. Beliau juga mampu menunjukkan kegembiraan yang luar biasa, melampaui apa pun yang pernah kulihat.<\/p>\n<p>Ketika aku sudah agak besar, Rinpoche mengundang sekelompok dari kami ke Tibet, termasuk Rabjam Rinpoche, Tulku Pema Wangyal, dan banyak lainnya. Kami pergi ke Biara Gonchen, juga dikenal sebagai Biara Derge, sebuah kuil Sakyapa yang didirikan oleh Thangtong Gyalpo di Tibet. Ini adalah kunjungan kedua Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche ke Tibet sejak penghancuran biara oleh Pengawal Merah selama Revolusi Kebudayaan. Cina baru saja mulai mengubah kebijakan tentang keyakinan dan praktik, namun banyak dari biara-biara ini berada dalam kondisi hancur total. Setelah kami tiba, banyak sekali orang Tibet datang menemui kami.<\/p>\n<p>Suatu hari, seorang pemuda berpenampilan sangat biasa datang dan dari tasnya yang tampak kasar, dia mempersembahkan patung Manjushri kecil berukuran tiga inci kepada Dilgo Khyentse Rinpoche. Bagiku itu tampak seperti patung biasa tetapi Rinpoche segera mengenalinya sebagai objek latihan milik Mipham Rinpoche. Beliau menangis lama sekali\u2014rasanya begitu lama\u2014sementara kami semua terdiam tanpa berkata-kata. Beliau berperilaku seolah-olah seseorang telah memberinya Manjushri hidup. Dan aku yakin seperti itulah beliau melihatnya.<\/p>\n<p>Rinpoche terus meletakkan patung itu di atas meja dan memandanginya, lalu memungutnya lagi dan lagi. Dan kemudian beliau menangis lagi. Beliau lalu menaruhnya di atas kepala dan hatinya, beliau sangat amat gembira. Beliau memanggil Tulku Pema Wangyal Rinpoche untuk memberi penghargaan kepada pemuda ini dan menurutku Rinpoche memberinya sejumlah uang yang cukup besar meskipun dia tidak memintanya.<\/p>\n<p>Sebagai pengikut Dilgo Khyentse Rinpoche, kami tentu saja memberi penghormatan kepada Mipham Rinpoche dan Manjushri, namun rasa bakti kami sangat biasa. Sikap kami menghormati karena kami seharusnya menghormati. Kami belum pernah menyaksikan kegembiraan mendalam sebagaimana yang ditunjukkan Rinpoche, alih-alih mengalaminya sendiri. Aku tercengang, jarang sekali Anda melihat hal seperti ini. Dan kini aku menyadari bahwa dengan menyaksikan seorang pejuang sejati, raksasa yang menakjubkan, benar-benar menangis, aku telah menyaksikan perwujudan keberanian.<\/p>\n<p>Mungkin sedikit bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, aku berlutut dan mengatakan kepadanya bahwa aku berjanji untuk mempersembahkan 100.000 lampu mentega untuk patung Manjushri ini. Rinpoche segera berkata, \u201cKamu akan menjadi sangat terpelajar dengan berkah Manjushri.\u201d<\/p>\n<p>Bertahun-tahun berlalu. Karena terbawa oleh kemalasan dan gangguan, aku tidak pernah memberikan persembahan pelita ketika beliau masih hidup. Rinpoche meninggal dunia pada tahun 1991. Pada saat penobatan Yangsi Rinpoche saat ini, Rabjam Rinpoche meminta saya untuk memberikan transmisi kepada para tulku muda dari tulisan Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche dan, tentu saja, saat aku membaca sadhananya sebagai pujian dan persembahan kepada Manjushri, di kolofon aku mendapati diri membaca keras-keras sebuah bagian yang berbunyi, \u201cKetika Yangsi Thubthen Ch\u00f6kyi Gyatso (begitulah beliau menyebutku) mempersembahkan 100.000 lampu mentega kepada Manjushri, aku pikir ini akan memberikan manfaat yang besar.\u201d Aku sedang membacakan <em>Lung<\/em> melalui pengeras suara dan meskipun aku begitu dikondisikan untuk tidak menangis, perasaanku begitu kuat hingga air mata mengalir keluar dari mataku. Aku harus berpura-pura membuang ingus dan batuk. Reaksi spontanku adalah menyembunyikannya.<\/p>\n<p>Segera setelah aku selesai melakukan transmisi, aku segera memesan mentega secukupnya dari Tibet untuk membuat 100.000 persembahan. Setelah itu, setiap kali aku mempunyai kesempatan, aku membuat 100.000 persembahan mandala dan 100.000 persembahan pelita kepada rupang agung Manjushri ini yang masih disimpan di Jnanasattva dari stupa Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche di Biara Shechen di Nepal.<\/p>\n<p>Dilgo Khyentse Yangsi Rinpoche telah dinobatkan selama bertahun-tahun. Aku beraspirasi untuk melihatnya, Rinpoche, sebagaimana Dilgo Khyentse Rinpoche melihatku. Sungguh tak terduga ada seseorang yang begitu gembira dengan hal-hal kecil seperti seorang anak laki-laki dan sebuah patung.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-119 size-large\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/for-obama-1024x768.jpg\" alt=\"for obama\" width=\"1024\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/for-obama-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/for-obama-300x225.jpg 300w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/for-obama-768x576.jpg 768w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/for-obama-1080x810.jpg 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>[1] kumpulan lengkap sabda Sang Buddha<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_divider _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_margin=&#8221;||0px||false|false&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_divider][et_pb_post_nav _builder_version=&#8221;4.16&#8243; min_height=&#8221;55px&#8221; custom_margin=&#8221;|-100px||-100px|false|true&#8221; custom_padding=&#8221;|0px||||&#8221; border_color_all=&#8221;rgba(0,0,0,0)&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_post_nav][et_pb_comments _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_comments][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah nyaris tak bertahan selama lebih dari setengah abad dalam halusinasi kehidupan ini\u2014melakukan perjalanan ribuan mil di jalan-jalan paling berbahaya di tempat seperti India dan Bhutan, terbang ratusan ribu mil keliling dunia dengan pesawat rapuh, mencicipi entah makanan jenis apa yang dijajakan oleh pedagang di Bangkok atau racun yang disamarkan sebagai makan malam di hotel [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3282,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"After barely surviving more than half a century of this hallucination of life\u2014having driven thousands of miles on some of the most treacherous roads in places like India and Bhutan, having flown hundreds of thousands of miles around the world in flimsy airplanes, having eaten who knows what kind of food from vendors in Bangkok or toxins camouflaged as high tea at the Peninsula hotel\u2014I have come to realize that being able to cry is a gift.\r\n\r\nThe sight of tears, especially those of children, and especially of girls, remains in my consciousness for years. Once Claudia was driving me to Sydney airport and her daughter Sachiko, barely a few months old, was crying for attention in the back seat. But we couldn't do anything because we were on the busy highway. Sometimes that scene still comes back to haunt me. I hope a fear of abandonment was not engrained in her that day.\r\n\r\nIn the environment I was raised, children who didn't cry were praised by adults. So I became proud of keeping it in and not being a sissy. I didn't shed a tear when I was taken away from my grandparents to boarding school. Even on the momentous day not long afterwards, when I was taken away from school and home forever, I controlled my tears, although it took some effort. On that day, I had to say goodbye to my maternal grandparents who had raised me and leave for Sikkim, which was farther away than I could imagine. There was no mention of ever returning. Sikkim is not geographically that far away from eastern Bhutan, but distance, height, and time are all relative and changeable depending on one's changing perspective. From the point of view of a child of five, it could not have been farther.\r\n\r\nI had heard people talk about places like Sikkim and Nepal but it never occurred to me that I would have an opportunity to go myself. Once in a blue moon an airplane would fly overhead and everyone would scramble outside to stare. They would stay a long time after the plane had passed, watching the white trails cross the sky. And for days we would talk about what it must be like up there. I assumed I would never have the opportunity to fly because it was for important, rich people. Once a family member came and claimed he'd taken a flight. He told his tale at dinner time in the kitchen where we all ate around the hearth, and it wasn't just me who was mesmerized, even the adults listened intently. Night after night this relative recounted his experience in the sky.\r\n\r\nAnyway, when the day came that I was going to this distant land called Sikkim, by road, mind you, my grandmother could not control her tears. I remember my grandfather scolding her because, he said, her display of emotion was inauspicious. To see an adult crying, especially when it was someone I respected very much, must have made a strong impression on me because it is the strongest of the few memories I have of my grandmother.\r\n\r\nLater I realized there are so many reasons people cry, including the people I respect most in this world, not just when they are sad or afraid.\r\n\r\nI have a hazy, fragmented memory of loudspeakers from the first time I met Kyabje Dilgo <img class=\"size-medium wp-image-116 alignleft\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/dudjom-254x300.jpeg\" alt=\"dudjom\" width=\"254\" height=\"300\" \/>Khyentse Rinpoche. I was less than one year old and I had been taken to Darjeeling, where my paternal grandfather Kyabje Dudjom Rinpoche was giving the transmission of the Kangyur<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref\"><sup>[1]<\/sup><\/a>. To give the transmission he had to read about 70,000 pages of text aloud, which takes many months. Probably the greatest thing the Tibetan civilization ever achieved was to translate, preserve, continuously transmit, and teach the Kangyur. I later learned that it was my grandfather who insisted I receive this transmission even though I was just a baby. And not just some parts of it; he told my mother not to let me sleep even for a moment. If I dozed off or got fussy, he would stop the transmission to give me sweets so that I wouldn\u2019t miss a single word. Years later people used this fact to manipulate me into giving the Kangyur transmission myself. And I did so, painfully, in Chauntra at Dzongsar Shedra, which permanently damaged my eyesight.\r\n\r\nIt was there that Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche came to receive part of the transmission from Kyabje Dudjom Rinpoche and I had my first encounter with him. I have a distinct memory of being drawn to a man seated on a throne, clearly not my grandfather. I insisted on approaching Rinpoche. This was later confirmed by my auntie, who told me that even though I was so young I was very focused on Dilgo Khyentse Rinpoche.\r\n\r\nThe second time I met Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche is much more clear in my mind. I was <img class=\"size-medium wp-image-117 alignright\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/khandro-290x300.jpg\" alt=\"khandro\" width=\"290\" height=\"300\" \/>five years old, just after I had left my grandparents, and on my way to the Khyentse Labrang at Gangtok Palace\u2014also known as Tsuklakhang or the Palace Chapel\u2014in Sikkim, where I was about to be enthroned as a tulku of Dzongsar Khyentse Ch\u00f6kyi Lodr\u00f6 and where I would reside for many years to come. The space for the labrang had been generously offered to Khyentse Ch\u00f6kyi Lodro by the King of Sikkim, Tashi Namgyal and his son the then crown prince Palden Thondup Namgyel, in the late 1950s. Khandro Tshering Ch\u00f6dr\u00f6n had been residing at the Tsuklakhang since then.\r\n\r\nOur group travelled from Bhutan in a dilapidated Mahindra jeep. I was feeling like a real man because I hadn\u2019t cried when saying goodbye to my life as I had known it. I was looking forward. When we reached a crossroads at Singtam, there was a large gathering of people there to receive me. My attendants and driver became flustered and nervous, rolling up the windows. Someone said, \u201cKyabje Dilgo Khyentse Rinpoche is here to receive you.\u201d As the jeep slowed down amid crowds of people holding katas, I saw Rinpoche standing there in a cloud of swirling smoke offerings. He was extremely tall and somewhat slim, not as large as he would become one day, and he was dressed up in fine robes. I was told much later that no one had ever seen him in such a robe and some even suspected that he borrowed clothing for the reception because he was very poor at that time.\r\n\r\n<img class=\"size-medium wp-image-118 alignleft\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/greeting-300x237.jpg\" alt=\"greeting\" width=\"300\" height=\"237\" \/>I was just a kid but Rinpoche treated me with complete respect. Ceremonial saffron rice and butter tea were offered, and then it was time to continue on to Gangtok. I was to shift from our dusty jeep into this beautiful white European sedan. This was the first time I\u2019d been in a European made car. Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche got in first and I was placed on his lap.\r\n\r\nThat\u2019s when it started. It was almost a two hour drive and Khyentse Rinpoche wept like a child the entire way, this giant man who was so respected by everyone, completely dissolved in tears. Years later, I heard that he told people that from the moment of seeing me in Singtam until he reached the palace, he felt the presence of Khyentse Ch\u00f6kyi Lodr\u00f6 utterly, clearly, as if nothing had changed, and he couldn't help himself.\r\n\r\nNot long after that, Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche began to teach and give initiations. In Tashiding, western Sikkim, he gave a very important treasure teaching of the Lama Gongdu cycle. Again, I watched in awe as he suddenly burst into tears in the middle of the teaching. He called for his attendant\u2014there was one named Shedrup\u2014who was also in tears. He immediately brought a very long scarf, which Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche put around my neck.\r\n\r\nUsually, Rinpoche was like a mountain, nothing moved him, nothing made him flustered. He was the last person you'd expect to cry. This is a man, six feet, eleven inches tall, with the blood and bones of some of the most celebrated warriors of Kham, Eastern Tibet, his grandfathers were ministers of the King of Derge. He inherited their bravery and elegance and was just so majestic, we can never really finish talking about his amazing qualities. But I can remember a few other occasions of Rinpoche crying, sometimes even bursting out into tears and wailing like a child, really boo hoo-ing. He was also capable of exhibiting great joy, beyond anything I had seen.\r\n\r\nWhen I was a bit older, Rinpoche invited a group of us to Tibet, including Rabjam Rinpoche, Tulku Pema Wangyal, and many others. We went to Gonchen monastery, also known as Derge Monastery, a Sakyapa temple founded by Thangtong Gyalpo in Tibet. It was Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche\u2019s second visit to Tibet since the Red Guard's destruction of the monasteries during the Cultural Revolution. China was just beginning to change its policies about faith and practice, but many of these monasteries were in a state of complete ruin. After we arrived, many, many Tibetans came to see us.\r\n\r\nOne day, a very ordinary looking young man came and from his rough looking bag, he offered a small three-inch statue of Manjushri to Dilgo Khyentse Rinpoche. It looked like an ordinary statue to me but Rinpoche immediately recognized it as the practice object belonging to Mipham Rinpoche. He wept for a long time\u2014it felt like ages\u2014while we all sat speechless. He behaved as if someone had given him a real live Manjushri. And I have no doubt that that is how he must have perceived it.\r\n\r\nRinpoche kept placing the statue on the table and gazing at it, then picking it up again and again. And then he would burst out in tears again. He would put it on his head and on his heart, he was just so overjoyed. He summoned Tulku Pema Wangyal Rinpoche to reward this young man and I think Rinpoche gave him quite a significant amount of money even though he wasn\u2019t asking for it.\r\n\r\nAs followers of Dilgo Khyentse Rinpoche, we of course paid homage to Mipham Rinpoche and Manjushri, but our devotion was very casual. Our attitude was to venerate because we were <em>supposed<\/em> to venerate. We had never really witnessed this deep joy that Rinpoche was displaying, let alone experienced it for ourselves. I was astonished, it\u2019s not often that you see such a thing. I now realize by witnessing a real warrior, a larger than life giant, actually having tears, I had witnessed the embodiment of courage.\r\n\r\nMaybe a little bewildered and not knowing what to do, I knelt down and told him that I pledged to offer 100,000 butter lamps to this Manjushri statue. Rinpoche immediately said, \u201cYou will be very learned by the blessing of Manjushri.\u201d\r\n\r\nMany years passed. Carried away by laziness and distractions, I never actually made the lamp offerings while he was still living. Rinpoche passed away in 1991. During the enthronement of the present Yangsi Rinpoche, Rabjam Rinpoche asked me to give transmissions to the young tulkus from the writings of Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche and, sure enough, as I was reading his sadhana in praise and offering to Manjushri, in the colophon I found myself reading aloud from a passage that said, \u201cWhen Yangsi Thubthen Ch\u00f6kyi Gyatso (this is how he referred to me) offered 100,000 butter lamps to Manjushri, I thought this would be of great benefit.\u201d I was reading the lung through a loudspeaker and though I was so conditioned to not cry, my feelings were so strong that tears came to my eyes. I had to pretend that I had to blow my nose and cough. My immediate reaction was to hide.\r\n\r\nAs soon as I was done with the transmission, I immediately ordered enough butter from Tibet to make 100,000 offerings. Thereafter, whenever I have a chance I make 100,000 mandala offerings and 100,000 light offerings to this great Manjushri statue that still is kept in the Jnanasattva of Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche\u2019s stupa at Shechen Monastery in Nepal.\r\n\r\nDilgo Khyentse Yangsi Rinpoche has been enthroned for many years. I aspire to see him, Rinpoche, in the way that Dilgo Khyentse Rinpoche saw me. It\u2019s unfathomable to have someone get so overjoyed by such small things, a boy and a statue.\r\n\r\n<img class=\"aligncenter wp-image-119 size-large\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/for-obama-1024x768.jpg\" alt=\"for obama\" width=\"1024\" height=\"768\" \/>\r\n\r\n<a href=\"#_ftnref\" name=\"_ftn1\"><sup>[1]<\/sup><\/a> the complete collection of the words of the Buddha","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"project_category":[85],"project_tag":[],"class_list":["post-3280","project","type-project","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","project_category-episodes-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3280","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project"}],"about":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/project"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3280"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3280\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3282"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3280"}],"wp:term":[{"taxonomy":"project_category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_category?post=3280"},{"taxonomy":"project_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_tag?post=3280"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}