{"id":3301,"date":"2016-06-09T07:48:37","date_gmt":"2016-06-09T07:48:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/project\/episode-four-hidden-lands\/"},"modified":"2024-05-19T10:34:50","modified_gmt":"2024-05-19T10:34:50","slug":"episode-four-hidden-lands","status":"publish","type":"project","link":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/project\/episode-four-hidden-lands\/","title":{"rendered":"EPISODE EMPAT: Negeri Tersembunyi"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_post_title _builder_version=&#8221;4.16&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][\/et_pb_post_title][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.25.1&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>Salah satu kenangan yang paling melekat kuat dalam benakku adalah dapur keluarga yang berasap dengan perapian tanah liat dan ambalan yang digantung dari langit-langit untuk menyimpan kayu bakar. Di sini, sayur-sayuran dicincang, teh diaduk, dan lubang hidung kami menjadi hitam ketika kami menyalakan api dengan ranting dahan pinus yang menyala perlahan. Ranting pinus juga digunakan untuk membuat penerangan. Namun yang terpenting, di sinilah keluargaku berkumpul untuk makan. Setelah makan malam, orang-orang dewasa menceritakan cerita rakyat dan para gomchen menakuti kami dengan cerita tentang hantu dan bayangan. Kisah yang sama dapat diceritakan ratusan kali dan tak satupun dari penutur maupun pendengar merasa bosan. Kadang-kadang, pada hari istimewa, kami menyalakan lampu minyak tanah, yang cara kerjanya membuat kami, anak-anak, terpesona.<\/p>\n<p><div id=\"attachment_146\" style=\"width: 197px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-146\" class=\"wp-image-146\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Ugyen_Wangchuk_1905-187x300.jpg\" alt=\"King Ugyen Wangchuk, 1905\" width=\"187\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Ugyen_Wangchuk_1905-187x300.jpg 187w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Ugyen_Wangchuk_1905-768x1233.jpg 768w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Ugyen_Wangchuk_1905-638x1024.jpg 638w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Ugyen_Wangchuk_1905-1080x1734.jpg 1080w\" sizes=\"(max-width: 187px) 100vw, 187px\" \/><p id=\"caption-attachment-146\" class=\"wp-caption-text\"><em>Raj Ugyen Wangchuk, 1905<\/em><\/p><\/div><div id=\"attachment_147\" style=\"width: 236px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-147\" class=\"wp-image-147\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/reting.jpeg\" alt=\"Lhasa, Regent Gyeltshap Reting Rinpoche\" width=\"226\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/reting.jpeg 602w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/reting-226x300.jpeg 226w\" sizes=\"(max-width: 226px) 100vw, 226px\" \/><p id=\"caption-attachment-147\" class=\"wp-caption-text\"><em>Bupati Gyeltshap Reting Rinpoche <\/em><\/p><\/div><\/p>\n<p>Aku memiliki kenangan yang jelas saat makan bersama kakek-nenek dari pihak ibu, Lama Sonam Zangpo dan Dendup Palmo. Lama Sonam Zangpo dapat menceritakan kisah-kisah terbaik. Ia dikenal karena ingatan fotografisnya dan ia ingat semua sejarah dan legenda. Gambaran tentang janggut raja pertama Bhutan, Sir Ugyen Wangchuck, atau betapa tampan dan menawannya Gyaltsab Reting Rinpoche[1] remaja ketika Dalai Lama ke-13 membawanya ke Biara Jokhang, membuat kisah-kisahnya menjadi hidup.<\/p>\n<p>Kakekku layaknya seorang bendahara dongeng. Aku masih berusaha keras mengingat satu cerita spesial yang beliau kisahkan kepadaku tentang seekor anjing yang merupakan emanasi Tara Hijau yang menyelamatkan seorang anak laki-laki kecil. Aku ingat dengan jelas bahwa anjing itu menuntun sang anak dengan membawa bunga yang indah di mulutnya, tetapi rasanya aku tidak akan pernah ingat kisah selanjutnya, mungkin sampai saat aku menarik atau menghembuskan nafas terakhirku.<\/p>\n<p>Hampir setiap hari, kakek bergumam tentang negeri tersembunyi dimana ia pernah tinggal dan masih ia rindukan. Ia sangat merindukan tempat tersembunyi ini: Jika kami makan pakis, warnanya tidak sehijau pakis yang ada di tempat tersembunyi itu. Tidak ada susu mentega selezat susu mentega di sana. Artemisia yang ditemukan di tempat lain tidak seharum yang pernah ada di sana. Dan ia merindukan jamur yang tumbuh di pepohonan sana.<\/p>\n<p>Satu-satunya ingatanku tentang negeri tersembunyi itu adalah sinar matahari yang terik, sebuah beranda, dan mungkin kebun sayur kecil.<\/p>\n<p>Ada banyak sekali metode yang tak terbayangkan untuk menemukan kebijaksanaan dalam Buddhisme Tantra \u2014 misalnya, dengan menghilang sepenuhnya. Salah satu tutorku menghilang suatu hari dan kami tidak pernah melihatnya lagi. Ada juga metode\u00a0 berpura-pura gila dan mengabaikan semua norma sosial. Salah satu tutorku yang lain mengambil jalan itu. Ada metode mengekstraksi biji juniper dengan hati-hati tanpa mengganggu cabangnya, dan kemudian tidak mengkonsumsi semua makanan dan minuman kecuali sari biji juniper itu; melalui puasa seseorang melepaskan kebiasaan mengunyah, mengenyangkan, dan mencerna, dan melalui itu, kebijaksanaan dan energi terungkap, prana dan nadi menjadi seimbang. Kakekku Lama Sonam Zangpo terkenal dengan praktik chulan ini; dia memiliki tangan yang paling stabil. Aku ingat di akhir usia 80-an, seperti pamer, ia melukis sebuah bija mantra di atas sebutir beras menggunakan kuas yang terbuat dari dua helai rambut.<\/p>\n<p>Namun kakekku paling dikenal karena praktik pergi ke negeri tersembunyi ini. Di Vajrayana diyakini ada banyak tempat tersembunyi di mana-mana. Bahkan mungkin ada satu di Bronx. Aku yakin dukun penduduk asli Amerika juga tahu cara mengakses negeri tersembunyi dan pusat energi. Samar-samar aku ingat pernah membaca tentang sesuatu yang disebut <em>sitio<\/em> dalam sebuah buku karya salah satu murid Don Juan.<\/p>\n<p>Pergi ke negeri tersembunyi adalah pemberontakan tertinggi melawan dunia samsara, seperti keluar dari masyarakat dan bergabung dengan komune, tapi lebih dari itu. Guru Rinpoche menggambarkan negeri tersembunyi ini dalam ajarannya. Ada yang dapat dijangkau, ada yang tidak, semuanya tidak pernah mudah ditemukan. Beberapa lokasi yang dapat dijangkau mungkin memiliki tanggal kedaluwarsa. Beberapa lainnya berpindah atau bermigrasi atau lenyap begitu saja karena tidak lagi berenergi untuk menjadi negeri tersembunyi, terlepas dari apakah ada orang yang sudah menginjakkan kaki di sana atau belum. Jika Anda berhasil menemukan negeri tersembunyi, Anda harus tinggal di sana sampai tujuannya tercapai, yang bisa memakan waktu beberapa hari, beberapa dekade, atau beberapa generasi. Anda tidak mungkin peduli dengan jangka waktu Anda di sana.<\/p>\n<p>Guru Rinpoche meninggalkan panduan dan peta berkode untuk beberapa negeri tersembunyi, termasuk metode apa yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke sana, tempat berkemah di sepanjang jalan, boleh atau tidaknya menyalakan api, cara membaca tanda, seperti apakah kicauan burung tertentu berarti sambutan atau tidak, apakah tembaga atau timah diperbolehkan melintasi perbatasan, cara membaca perilaku lintah (yang dianggap dakini penjaga), dan petunjuk rinci tentang apa yang harus dilakukan setelah Anda sampai di sana.<\/p>\n<p>Ia mengatakan ada manfaat yang tak terukur dari bepergian ke negeri tersembunyi. Selain kearifan yang dapat diakses di sana, ada manfaat luar biasa karena tidak lagi harus berada di dunia yang dibatasi oleh pemikiran rasional. Menguraikan kode dan membaca panduan untuk menemukan negeri tersembunyi hanya dapat dilakukan oleh praktisi yang sangat istimewa dan dalam kondisi yang sangat khusus. Syarat utamanya adalah motivasi dan sikap. Jika seseorang adalah pengecut yang terlalu rasional dan kritis, jika ia tidak memiliki keberanian untuk meninggalkan setiap titik referensi yang diketahui, kemungkinan besar ia tidak akan pernah menemukan negeri tersembunyi. Sekedar keingintahuan bukanlah motivasi yang cukup.<\/p>\n<p>Akan ada banyak cobaan di sepanjang perjalanan; bahkan praktisi terhebat pun bisa hampir sampai dan tetap gagal. Dan setelah melalui banyak kesulitan, beberapa orang akhirnya bisa melihat negeri tersembunyi, namun sejenak saja membuang pandangan, negeri itu lenyap. Ini pernah terjadi.<\/p>\n<div id=\"attachment_148\" style=\"width: 207px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-148\" class=\"wp-image-148 size-medium\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Drubwang_Sonam_Zangpo-197x300.jpg\" alt=\"Lama Sonam Zangpo, my maternal grandfather\" width=\"197\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Drubwang_Sonam_Zangpo-197x300.jpg 197w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Drubwang_Sonam_Zangpo-671x1024.jpg 671w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Drubwang_Sonam_Zangpo.jpg 700w\" sizes=\"(max-width: 197px) 100vw, 197px\" \/><p id=\"caption-attachment-148\" class=\"wp-caption-text\"><em>Lama Sonam Zangpo, kakek dari pihak ibuku<\/em><\/p><\/div>\n<p>Kakekku memiliki semua motivasi yang diperlukan, tekad bulat, dan kekuatan yang diperlukan oleh seorang pencari negeri tersembunyi. Pada tahun 1951, ia dengan berani memutuskan untuk melakukan pencarian negeri tersembunyi, melewati es dan badai, melewati bambu dan lumpur, menyusuri tebing dan lembah, menggunakan ramalan dan buku panduan yang ditinggalkan oleh Padmasambhava lebih dari 1.200 tahun yang lalu. Sekitar 100 orang mengikutinya, meninggalkan mata pencaharian mereka, rumah mereka, ternak, lahan pertanian, semuanya. Pada dasarnya mereka memutuskan untuk menjadi kaum hippie.<\/p>\n<p>Tempat yang kakek temukan, buka, dan menetap disebut Khenpajong, yang artinya Lembah Artemisia atau hia, dan ia tinggal di sana selama satu dekade. Di sana, ia berhasil menemukan pengantin pria dengan hidung dan suasana hati yang khas dari Tibet dan membawanya untuk menikahi putrinya yang pendiam dan suka merenung. Sebagai hasil dari pasangan tersebut, lahirlah aku di negeri tersembunyi itu. Kata orang-orang, sebelum aku, ada seorang anak yang lahir dari orang tuaku, namun meninggal sesaat setelah lahir, jadi aku mungkin satu-satunya anak yang lahir di Khenpajong yang masih berkeliling dunia meninggalkan jejak karbon dan berkontribusi terhadap kehancuran dunia. Begitu aku lahir, semua manusia meninggalkan Khenpajong. Lembah Artemisia benar-benar ditinggalkan.<\/p>\n<div id=\"attachment_144\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-144\" class=\"wp-image-144 size-full\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/face.jpg\" alt=\"face\" width=\"640\" height=\"478\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/face.jpg 640w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/face-300x224.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-144\" class=\"wp-caption-text\"><em>Lukisan oleh Nicholas Roerich<\/em><\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[1] Jamphel Yeshe Gyaltsen Tibet: \u0f56\u0f0b\u0f56\u0f53\u0f0b\u0f60\u0f47\u0f58\u0f0b\u0f51\u0f54\u0f63\u0f0b\u0f61\u0f7a\u0f0b\u0f64\u0f7a\u0f66\u0f0b\u0f63\u0f0b\u0f58\u0f5a\u0f53\u0f0b, (Dagpo, 1910 &#8211; Lhasa, 1947) adalah seorang tulku Tibet dan Reting Rinpoche kelima.<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_divider _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_divider][et_pb_post_nav _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_post_nav][et_pb_comments _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_comments][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu kenangan yang paling melekat kuat dalam benakku adalah dapur keluarga yang berasap dengan perapian tanah liat dan ambalan yang digantung dari langit-langit untuk menyimpan kayu bakar. Di sini, sayur-sayuran dicincang, teh diaduk, dan lubang hidung kami menjadi hitam ketika kami menyalakan api dengan ranting dahan pinus yang menyala perlahan. Ranting pinus juga digunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3302,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"One of my strongest memories is of my family's smoky kitchen with its clay hearth and a platform hung from the rafters holding the firewood. Here, vegetables were chopped, tea was churned, and our nostrils turned black as we fed the fire with slow-burning knots from pine branches. The knots were also used to make lamps. But most importantly, this is where the family gathered for meals. After dinner, the adults told folk stories and the <em>gomchen<\/em> scared us with their tales of ghosts and shadows. The same story could be told a hundred times and neither the teller nor the listener would tire. Occasionally, on special days, we might light a kerosene lamp, whose workings fascinated us kids.\n\n[caption id=\"attachment_146\" align=\"alignleft\" width=\"187\"]<img class=\"wp-image-146\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Ugyen_Wangchuk_1905-187x300.jpg\" alt=\"King Ugyen Wangchuk, 1905\" width=\"187\" height=\"300\"> <em>King Ugyen Wangchuk, 1905<\/em>[\/caption]\n\n[caption id=\"attachment_147\" align=\"alignleft\" width=\"226\"]<img class=\"wp-image-147\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/reting.jpeg\" alt=\"Lhasa, Regent Gyeltshap Reting Rinpoche\" width=\"226\" height=\"300\"> <em>Regent Gyeltshap Reting Rinpoche&nbsp;<\/em>[\/caption]\n\nI have clear memories of sharing meals with my maternal grandparents, Lama Sonam Zangpo and Dendup Palmo. Lama Sonam Zangpo could tell the best tales. He was known for his photographic memory and he remembered all the histories and legends. His descriptions of the beard of the first king of Bhutan, Sir Ugyen Wangchuck, or how handsome and striking the teenaged Gyaltsab Reting Rinpoche<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref\">[1]<\/a> was as the 13th Dalai Lama led him into the Jokhang Monastery, made his stories come alive.\n\nMy Grandfather was like a treasury of fairy tales. I am still desperately trying to remember one particular story he told me about a dog that was an emanation of Green Tara rescuing a small boy. I remember vividly that the dog lead the boy by carrying a beautiful flower in its mouth, but I have a distinct feeling I will not remember the rest of the story perhaps until the moment I breathe in or out my last breath.\n\nAlmost every day, my grandfather would mutter about a hidden land where he had once lived and which he still longed for. He was so nostalgic for this hidden place: If we were eating fern, it wasn't as green as it had been at the hidden place. No buttermilk was as delicious as it had been there. Artemisia found anywhere else was nowhere near as fragrant as it had been there. And he was especially nostalgic about the fungus that had grown on the trees.\n\nMy only memory of that hidden land is of some strong sunlight, a verandah, and maybe a small vegetable garden.\n\nThere are countless unimaginable methods to discover wisdom in Tantric Buddhism \u2014 for example, by vanishing completely. One of my own tutors disappeared one day and we never saw him again. There is a method of convincingly pretending to be crazy and abandoning all social norms. Another one of my tutors took that path. There is a method of delicately extracting juniper seeds without disturbing the branches, and then abstaining from all food and drink except the essence of those seeds; through fasting one lets go of the habits of munching, stuffing, and digesting, and through that, wisdom and energy are uncovered, prana and nadis are balanced. My grandfather Lama Sonam Zangpo was well known for this <em>chulan<\/em> practice; he had the steadiest hands. I remember him in his late 80s almost showing off by painting a seed syllable on a grain of rice using a brush made with two hairs.\n\nBut it is the practice of going into hidden lands that my grandfather was best known for. In the Vajrayana it is believed that there are hidden spots everywhere. There could even be one in the Bronx. I believe the Native American shamans also used to know how to access hidden lands and power spots. I vaguely remember reading about something called <em>sitio<\/em> in a book by one of Don Juan's disciples.\n\nGoing to a hidden land is the ultimate rebellion against the samsaric world, like dropping out of society and joining a commune, but much more than that. Guru Rinpoche described these hidden lands in his teachings. Some are reachable, some not, all are never easy to find. Those that are reachable may have expiration dates. Some shift or migrate or simply stop having the energy of being a hidden land, regardless of whether or not anyone has set foot there. If you manage to unlock a hidden land, you must stay there until its purpose is served, which could be a few days, a few decades, or a few generations. You can't care about your term.\n\nGuru Rinpoche left coded guides and maps to some hidden lands, including which methods to use to travel there, where to camp along the way, whether or not fires are allowed, how to read the signs, such as whether a certain birdcall is welcoming or not, whether copper or lead is allowed across the boundary, how to read the behavior of the leeches (who are like guardian dakinis), and detailed instructions about what to do once you reach there. He said there are immeasurable benefits to traveling to hidden lands. In addition to the wisdom one may access there, there is the amazing benefit of no longer having to abide in a world limited by rational thought. Deciphering the codes and reading the guides to unlock a hidden land takes a very special practitioner and very special conditions. The primary condition is motivation and attitude. If one is too much of a rational and critical coward, if one doesn't have the daringness to leave behind every known reference point, chances are one will never find a hidden land. Curiosity is not motivation enough at all.\n\nThere will be so many ordeals along the way; even the greatest practitioner can get quite close and still fail. And after much hardship, some have finally set eyes on a hidden land, but when glanced away for a moment, it vanished. This has happened.\n\n[caption id=\"attachment_148\" align=\"alignleft\" width=\"197\"]<img class=\"wp-image-148 size-medium\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Drubwang_Sonam_Zangpo-197x300.jpg\" alt=\"Lama Sonam Zangpo, my maternal grandfather\" width=\"197\" height=\"300\"> <em>Lama Sonam Zangpo, my maternal grandfather<\/em>[\/caption]\n\nMy grandfather had all the necessary motivation, one-pointed determination, and strength necessary for a hidden land searcher. In 1951, he bravely decided to take a journey to unlock a hidden land, through ice and storms, through bamboo and slush, along cliffs and through valleys, using the prophecies and a guidebook that was left by Padmasambhava more than 1,200 years ago. About 100 people followed him, abandoning their livelihood, their homes, cattle, farms, everything. Basically they decided to be the ultimate hippies.\n\nThe place that my grandfather found, unlocked, and settled, was called Khenpajong, which means Valley of Artemisia or mugwort, and he stayed there for a decade. While he was there, he managed to find a groom with a distinctive nose and mood from Tibet and brought him to marry his quiet and meditative daughter. As a result of that pairing, I was born in the hidden land. People tell me that one child was born to my parents before me but died soon after, so I am perhaps the only child born in Khenpajong who is still going around the world leaving carbon footprints and contributing to the destruction of the world. Soon after I was born, every single human being left Khenpajong. The Valley of Artemisia was totally, utterly abandoned.\n\n[caption id=\"attachment_144\" align=\"aligncenter\" width=\"640\"]<img class=\"wp-image-144 size-full\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/face.jpg\" alt=\"face\" width=\"640\" height=\"478\"> <em>Painting by Nicholas Roerich<\/em>[\/caption]\n\n&nbsp;\n\n<a href=\"#_ftnref\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Jamphel Yeshe Gyaltsen <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Tibetan_alphabet\">Tibetan<\/a>:&nbsp;\u0f50\u0f74\u0f56\u0f0b\u0f56\u0f66\u0f9f\u0f53\u0f0b\u0f60\u0f47\u0f58\u0f0b\u0f51\u0f54\u0f63\u0f0b\u0f61\u0f7a\u0f0b\u0f64\u0f7a\u0f66\u0f0b\u0f62\u0f92\u0fb1\u0f63\u0f0b\u0f58\u0f5a\u0f53\u0f0b,&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Dagpo&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Dagpo<\/a>, 1910 -&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Lhasa\">Lhasa<\/a>, 1947) was a&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Tibet\">Tibetan<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Tulku\">tulku<\/a>&nbsp;and the fifth&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Reting_Rinpoche\">Reting Rinpoche<\/a>.","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"project_category":[85],"project_tag":[],"class_list":["post-3301","project","type-project","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","project_category-episodes-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3301","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project"}],"about":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/project"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3301"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3301\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3302"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"project_category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_category?post=3301"},{"taxonomy":"project_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_tag?post=3301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}