{"id":3336,"date":"2016-08-07T04:48:19","date_gmt":"2016-08-07T04:48:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mugwortborn.com\/project\/episode-five-lepo-the-idiot\/"},"modified":"2024-06-05T16:57:48","modified_gmt":"2024-06-05T16:57:48","slug":"episode-five-lepo-the-idiot","status":"publish","type":"project","link":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/project\/episode-five-lepo-the-idiot\/","title":{"rendered":"EPISODE LIMA: Lepo si Idiot"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.25.1&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; width=&#8221;100%&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.25.1&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-8 size-medium\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-300x300.jpg\" alt=\"cropped-self-portrait.jpg\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-300x300.jpg 300w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-150x150.jpg 150w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-270x270.jpg 270w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-192x192.jpg 192w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-180x180.jpg 180w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-32x32.jpg 32w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait.jpg 512w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Aku tak tahu akan dipanggil apa di kehidupanku selanjutnya. Aku benar-benar tidak tahu apakah akan terlahir kembali di alam yang mengenal nama. Apakah kumbang punya nama? Mungkin namaku saat ini, Dzongsar Jamyang Khyentse akan diberikan pada seorang anak dari manusia yang ambisius dan berpengaruh, atau kerabat yang manipulatif. Dan aku akan mati dalam teh dari anak yang mendapat namaku itu.<\/p>\n<p>Ketika masih kecil, nama panggilanku adalah \u201cLepo\u201d, yang berarti bodoh. Di Bhutan, kebanyakan orang tidak keberatan dipanggil idiot, atau gendut, atau nasi kepal, atau biksu yang lepas jubah, atau wajan. Faktanya ketika Bhutan akhirnya harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan fenomena global sensus penduduk dan kartu identitas, banyak orang yang akhirnya mencantumkan nama panggilan mereka di paspor. Jadi sekarang di biaraku ada seorang khenpo dengan nama &#8220;Yongba&#8221; di paspornya, yang merupakan kata lain untuk idiot. Nama keluarga jarang ada dalam tradisi Tibet dan Bhutan, alih-alih nama keluarga sebelum menikah.<\/p>\n<p>Setiap biksu diberi nama yang indah pada upacara penahbisan atau tisarana, tapi jarang digunakan. Pada masa-masa awal, ketika aku sedang mencoba membangun sekolah monastik di Bir, aku mempunyai beberapa biksu yang bekerja di sana. Setiap kali kami menyapa para biksu dengan nama Dharma mereka, seperti &#8220;Pemegang Pelita&#8221; atau &#8220;Panji Kemenangan&#8221;, tidak ada seorang pun yang menjawab. Satu-satunya cara untuk menarik perhatian mereka adalah dengan memanggil, &#8220;Helikopter!&#8221; atau &#8220;Karung Garam!&#8221; dan mereka akan segera datang.<\/p>\n<p>Lalu ada pula serangkaian nama lain yang pemiliknya bahkan tidak tahu bahwa itu nama mereka. Para biksu di shedra diam-diam memanggil lopon dan khenpo mereka dengan segala macam julukan di belakang mereka. Misalnya kepala biara Dzongsar Shedra, Khenpo Kunga Wangchuk, beliau adalah seorang praktisi dihormati dan amat tenang, yang sangat berdedikasi pada Dharma, namun beberapa biksu diam-diam menyebutnya sebagai &#8220;Gabbar Singh&#8221;, penjahat sadis dari sebuah film Bollywood di tahun 1970-an, aku rasa karena mereka takut padanya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-150 alignright\" src=\"http:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood.jpg\" alt=\"Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood\" width=\"300\" height=\"420\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood.jpg 800w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood-214x300.jpg 214w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood-768x1075.jpg 768w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood-731x1024.jpg 731w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><span style=\"line-height: 1.7em;\"><\/span><\/p>\n<p>Semua kakak dan adikku punya nama panggilan. Kakak perempuanku Kelsang Choden dipanggil &#8220;Lemmo&#8221; yang artinya perempuan idiot, tapi itu bukan penghinaan karena dia sangat pintar dan terpelajar. Dia bersekolah di <em>St Helen&#8217;s School<\/em>, sebuah sekolah Kristen di Karshiang, Benggala Barat, dan kami, anak-anak yang lebih kecil, selalu menantikan kepulangannya selama liburan karena dia membacakan buku-buku kecil berbahasa Inggris untuk kami. Aku mengenal <em>Little Red Riding Hood <\/em>melalui kakakku. Cerita dan gambar dari barat begitu berpengaruh. Aku bisa mendengarkan <em>Little Red Riding Hood<\/em> lagi dan lagi dan lagi dan tak pernah merasa bosan, lalu aku terbangun di malam hari, takut ada serigala.<\/p>\n<p>Adik perempuanku, Yeshe Pelzom, dipanggil &#8220;Baktangmo&#8221;, yang berarti &#8220;si gendut&#8221; karena dia agak bulat ketika masih kecil. Bayangan Yeshe Pelzom yang gemuk dan keras kepala dengan <em>chuba<\/em> (pakaian tradisional Tibet) ungu tua masih membekas kuat di benakku hingga saat ini. Dalam kurun waktu singkat yang aku habiskan di rumah bersama keluarga, aku merasa sangat ingin melindunginya. Tentu saja ia sekarang tidak bulat sama sekali tapi ia masih sedikit keras kepala; sifat keras kepala merupakan ciri khas anak-anak Thinley Norbu, yang dikenal oleh teman-temannya sebagai perwujudan sifat keras kepala.<\/p>\n<p>Adik laki-lakiku Garab Dorji diberi nama &#8220;Meme Garab&#8221;, yang artinya pak tua Garab. Aku lupa alasan dia dipanggil seperti itu. Adik laki-lakiku Jampal Dorji dipanggil &#8220;Gangongla&#8221; yang berarti kerikil. Bayangan dia ngiler saat berbicara ketika masa kanak-kanak dan masih ngiler sampai sekarang tidak akan pernah hilang dari kepalaku. Adik perempuanku yang bungsu Pema Ch\u00f6kyi dipanggil &#8220;Niyamo&#8221;, yang artinya tikus. Dan akhirnya adik laki-lakiku yang bungsu Ugyen Namgay dipanggil \u201cTaila\u201d, yang artinya kacang. Sayangnya aku hampir tidak ingat satu pun dari dua adik bungsu ini karena ketika mereka lahir, aku sudah lama tidak di sana.<\/p>\n<p>Secara populer dan terkadang secara resmi, aku dipanggil Dzongsar Jamyang Khyentse, tapi ini adalah nama umum, dan bukan sesuatu yang personal bagiku. Dzongsar adalah sebuah tempat, seperti Nashville, dan Jamyang Khyentse adalah nama Jamyang Khyentse Wangpo sendiri. Kemudian, ketika beliau reinkarnasi, nama tersebut akan diteruskan ke semua inkarnasinya dan karena aku adalah salah satu dari mereka, aku mendapatkan nama ini.<\/p>\n<p>Ketika orang tuaku membawa aku saat masih bayi ke ayah dari ayahku, Dudjom Rinpoche, beliau memberiku nama Khyentse Norbu, yang merupakan satu-satunya nama yang selalu ayah gunakan untuk memanggilku. Aku pikir Dudjom Rinpoche mencoba memberi nama Norbu kepada semua keturunannya: Thinley Norbu, Shenphen Norbu, Pende Norbu, dan kemudian aku. Namun ketika aku tumbuh besar bersama kakek dan nenek di Bhutan timur, beberapa orang memanggilku &#8220;Lama Daza&#8221;, yang berarti lhama kecil. Dan beberapa lainnya memanggilku Dungse Rinpoche, begitulah orang memanggil pemegang silsilah keluarga, seperti ayahku, Dungse Thinley Norbu Rinpoche, yaitu putra Dudjom Rinpoche.<\/p>\n<p>Kemudian, ketika aku dinobatkan di Sikkim, Sakya Trizin mengirimkan kain merah dengan lukisan &#8220;Jamyang Thubthen Ch\u00f6kyi Gyatso&#8221; di atas piringan teratai, matahari, dan bulan yang ditopang oleh dua ekor singa. Karmapa ke-16 juga menganugerahkan nama padaku: Tsangpa Lhayi Metok, yang berarti \u201cbunga surga\u201d. Kemudian, aku menemui Dalai Lama untuk memohon berkah, sebagaimana biasanya, dan beliau memberiku nama Shenpen Ch\u00f6kyi Nangwa yang berarti &#8220;proyeksi Dharma yang bermanfaat bagi semua&#8221;. Namun sering kali, tutor-tutorku dan para lhama lainnya menyebutku sebagai Yangsi Rinpoche, yang berarti &#8220;yang tereinkarnasi&#8221;.<\/p>\n<p>Beberapa lhama yang lebih tua seperti Orgyen Tobgyal Rinpoche, masih memanggilku Yangsi. Ketika aku masih kecil dan menerima ajaran dari Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche, aku tahu bahwa para tulku muda lainnya terkadang memanggilku &#8220;Trimthar&#8221; yang berarti &#8220;melampaui hukum&#8221; karena Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche tidak pernah memarahiku, bahkan tidak meninggikan suaranya, tidak pernah ada kata-kata kasar, bahkan tidak ada kesan tidak setuju, apa pun masalah yang aku buat. Kupikir ada persepsi bahwa tak ada orang yang bisa lolos dari konsekuensi perbuatan sepertiku. Di kemudian hari, ketika aku bekerja di lokasi pengambilan gambar Little Buddha bersama Bernardo Bertolucci, kru Italia kesulitan mengucapkan namaku sehingga mereka memutuskan untuk memanggilku &#8220;Piccolo Padre&#8221;, yang menurutku berarti &#8220;ayah kecil&#8221;. Dan karena beberapa orang Singapura dan Malaysia yang nakal, ada yang kini memanggilku &#8220;Bos&#8221; di belakangku.<\/p>\n<p>Bayangkan kesulitan yang kualami ketika tiba waktunya mulai berkeliling dunia dan akhirnya harus mengajukan sebuah fenomena yang disebut paspor.<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aku tak tahu akan dipanggil apa di kehidupanku selanjutnya. Aku benar-benar tidak tahu apakah akan terlahir kembali di alam yang mengenal nama. Apakah kumbang punya nama? Mungkin namaku saat ini, Dzongsar Jamyang Khyentse akan diberikan pada seorang anak dari manusia yang ambisius dan berpengaruh, atau kerabat yang manipulatif. Dan aku akan mati dalam teh dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3338,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"<img class=\"alignleft wp-image-8 size-medium\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/cropped-self-portrait-300x300.jpg\" alt=\"cropped-self-portrait.jpg\" width=\"300\" height=\"300\">I don't know what I will be called in my next life. I actually don't know if I will be reborn in a sphere where there is such a thing as a name. Do beetles have names? Probably my current name Dzongsar Jamyang Khyentse will be given to a child of an ambitious, influential human being or a manipulative relative. And I will die in the tea of the child who gets that name.\n\nWhen I was young, my nickname was \u201cLepo,\u201d which means idiot. In Bhutan, most people don't mind being called idiot, or fatty, or rice ball, or disrobed monk, or frying pan. In fact when Bhutan finally had to bow down and conform to the global phenomena of census taking and ID cards, many people ended up putting their nicknames on their passports. So now I have a khenpo at my monastery whose passport says \"Yongba,\" which is another way to say idiot. Surnames rarely exist in Tibetan and Bhutanese, let alone maiden names.\n\nEvery monk is given a beautiful name at their ordination or refuge ceremony, which is rarely used. In the early days, when I was trying to build my own monastic school in Bir, I had a handful of monks working there. Whenever we addressed the monks with their Dharma names, like \"Holder of the Lamp\" or \"Victory Banner,\" no one would respond. The only way to get their attention was to say, \"Helicopter!\" or \"Salt Sack!\" and they'd come right over.\n\nThen there is another set of names that people don't even know they have. Monks at shedra secretly call their lopons and khenpos by all kinds of made up nicknames behind their backs. For instance the abbot of Dzongsar Shedra, Khenpo Kunga Wangchuk, who was this great, serene, practitioner, so dedicated to the Dharma, but some of the monks secretly referred to him as \"Gabbar Singh,\" who was a sadistic villain from a 1970s Bollywood film, I guess because they were afraid of him.\n\nMy sisters and brothers all had nicknames. My older sister Kelsang Choden was called \"Lemmo\" which means female idiot, but it wasn't an insult because she has always been very smart and refined. She attended St Helen\u2019s School, a Christian <img class=\"wp-image-150 alignright\" src=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood.jpg\" alt=\"Arthur_Rackham_Little_Red_Riding_Hood\" width=\"300\" height=\"420\"><span style=\"line-height: 1.7em;\">school in Karshiang, West Bengal, and we younger kids always eagerly awaited her return during the holidays because she would read to us from these small English books. My introduction to <\/span><em style=\"line-height: 1.7em;\">Little Red Riding Hood<\/em><span style=\"line-height: 1.7em;\"> was through her. The stories and drawings from the west were so powerful. I could listen to <\/span><em style=\"line-height: 1.7em;\">Little Red Riding Hood<\/em><span style=\"line-height: 1.7em;\"> again and again and again and never get bored, then I would lay awake at night, afraid of the wolf.<\/span>\n\nMy younger sister, Yeshe Pelzom, was called \"Baktangmo,\" which means something like \"the fat one\" because she was a bit round when she was young. The image of chubby, stubborn Yeshe Pelzom with her dark purple chuba is strongly imprinted in my mind to this day. In the brief time that I spent at home with my family, I felt very protective of her. Of course she is now not at all round but she's still a little stubborn; stubbornness is a trademark of the children of Thinley Norbu, who was known by his peers as the embodiment of stubbornness.\n\nMy younger brother Garab Dorji was named \"Meme Garab,\" which means old man Garab. I don't really remember why he was called that. My younger brother Jampal Dorji was called \"Gangongla\" which means the pebble. The image of him drooling when he spoke as a child and still drooling today will never leave my head. My youngest sister Pema Ch\u00f6kyi was called \"Niyamo,\" which means mouse. And finally my youngest brother Ugyen Namgay was called \"Taila\" which means beans. Unfortunately I have almost no memory of either of these youngest two because by the time they came along, I was long gone.\n\nPopularly and sometimes officially, I am called Dzongsar Jamyang Khyentse, but it is a somewhat general name, it's not personal to me. Dzongsar is a place, like Nashville, and Jamyang Khyentse was Jamyang Khyentse Wangpo's own name. Later, when he reincarnated, it got passed along to all his incarnations and since I happened to be one of them, I got this name.\n\nWhen my parents brought me as a baby to my father's father, Dudjom Rinpoche, he gave me the name Khyentse Norbu, which is the only name my father ever called me. I think Dudjom Rinpoche was trying to give all his descendants the name Norbu: Thinley Norbu, Shenphen Norbu, Pende Norbu, and then me. But when I was growing up with my grandparents in eastern Bhutan, some people called me \"Lama Daza,\" which means little lama. And a few others called me Dungse Rinpoche, which is how one calls a family lineage holder, such as my father, Dungse Thinley Norbu Rinpoche, i.e. son of Dudjom Rinpoche.\n\nThen, when I was enthroned in Sikkim, Sakya Trizin sent a red cloth with \"Jamyang Thubthen Ch\u00f6kyi Gyatso\" painted on it above a lotus, sun, and moon disk supported by two lions. The 16th Karmapa also bestowed a name on me: Tsangpa Lhayi Metok, which means \"flower of heaven.\" Later, I went to the Dalai Lama for blessing, as is customary, and he gave me the name Shenpen Ch\u00f6kyi Nangwa which means \"projection of Dharma that benefits others.\" But most of the time, my tutors and other lamas referred to me as Yangsi Rinpoche, which means \"the reincarnated one.\" Some of the older lamas like Orgyen Tobgyal Rinpoche, still call me Yangsi. When I was a young boy receiving teachings from Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche, I learned that the other young tulkus sometimes called me \"Trimthar\" which means \"above the law\" because Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche never used to scold me, not even raised his voice, never a harsh word, not even a disapproving vibe, no matter what trouble I got into. I think there is a perception that no one else could get away with the things I did. Later, when I worked on the set of <em>Little Buddha<\/em> with Bernardo Bertolucci, the Italian crew had a difficult time pronouncing my name so they decided to call me \"Piccolo Padre\", which I think means \"little father.\" And because of some mischievous Singaporean and Malaysians, some people now call me \"Boss\" behind my back.\n\nImagine the difficulties I had when it was time for me to start traveling the world and I finally had to apply for a phenomenon called passport.","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"project_category":[85],"project_tag":[],"class_list":["post-3336","project","type-project","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","project_category-episodes-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3336","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project"}],"about":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/project"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3336"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3336\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"project_category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_category?post=3336"},{"taxonomy":"project_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_tag?post=3336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}