{"id":3744,"date":"2019-12-13T16:48:08","date_gmt":"2019-12-13T16:48:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mugwortborn.com\/project\/episode-sixteen-pure-perception-and-the-destroyer-of-demons\/"},"modified":"2026-03-11T19:04:54","modified_gmt":"2026-03-11T19:04:54","slug":"episode-sixteen-pure-perception-and-the-destroyer-of-demons","status":"publish","type":"project","link":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/project\/episode-sixteen-pure-perception-and-the-destroyer-of-demons\/","title":{"rendered":"EPISODE ENAMBELAS: Persepsi Murni dan Penghancur Setan"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_post_title meta=&#8221;off&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_post_title][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.5&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>Dalam pandanganku, kakekku Kyabje Dudjom Rinpoche adalah sosok pria yang <em>cantik<\/em> daripada tampan. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap menjadi salah satu orang paling anggun dan terawat yang pernah kulihat. Begitu banyak perhatian diberikan untuk mengikat rambutnya ke belakang. Kemeja disetrika. Kombinasi warna pakaiannya sangat sempurna. Aku mendengar banyak cerita tentang pesonanya yang cukup menarik bagi para wanita. Kamarnya sangat bersih. Beliau mengidap asma, dan mungkin aku bias, bagiku suara mengi-nya pun terdengar elegan. Cara beliau memegang kertas, cara beliau memutar vajra, cara beliau memukul damaru sungguh memesona.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-333\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/31724913218376123.jpg\" alt=\"\" width=\"710\" height=\"550\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/31724913218376123.jpg 710w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/31724913218376123-300x232.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 710px) 100vw, 710px\" \/><\/p>\n<p>Ornamen khasnya adalah sepasang kacamata berwarna yang terbuat dari kristal dan selalu beliau kenakan. Aku mendengar beliau memberi tahu orang-orang, termasuk aku sendiri, bahwa mereka harus memakai kacamata kristal. Itu sangat bagus. Faktanya, Trulshik Rinpoche mengikuti nasihatnya dan aku ingat beliau memakai kacamata kristal sepanjang hidupnya. Dudjom Rinpoche secara special memesan kacamata kristalnya di Hong Kong dan merekomendasikan agar lhama lain juga melakukan hal yang sama. Jadi belum lama ini ketika aku pergi ke Hong Kong, aku meminta orang yang sama untuk membuatkan kacamata kristal untukku. Tapi kacamata kristal sangat berat dan aku tak cukup disiplin untuk memakainya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-338\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/img_KTR_DR.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"463\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/img_KTR_DR.jpg 700w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/img_KTR_DR-300x198.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p>Aku bukanlah pecinta mobil, namun, ketika aku melihat Land Rover Defender, aku langsung teringat saat berusia sekitar enam tahun, melakukan perjalanan dari India ke Bhutan bersama Kyabje Dudjom Rinpoche. Melihat mobil Land Rover Defender selalu membangkitkan kenangan yang kuat dan bahkan menimbulkan bau yang khas di pikiranku. Rupanya, ratu Inggris juga suka mobil itu.<\/p>\n<p>Kyabje Dudjom Rinpoche melakukan perjalanan ini atas undangan kakekku yang lain, Lama Sonam Zangpo, dan semuanya memakan waktu beberapa bulan. Kebanyakan kami berjalan kaki, terkadang kami menggunakan tandu, Dudjom Rinpoche setidaknya digotong oleh empat orang dan dua orang lagi menggotongku. Dan kami juga kadang menggunakan Land Rover Defender, di mana aku akan duduk di antara Dudjom Rinpoche dan pengemudi sepanjang perjalanan. Itu adalah momen yang sangat berkesan karena itulah satu-satunya kesempatan yang kumiliki dalam hidupku untuk berada dekat dengan kakekku. Kadang-kadang aku bahkan tertidur dengan kepala di bahu atau pangkuannya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-331\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Defender.jpg\" alt=\"\" width=\"259\" height=\"194\" \/><\/p>\n<p>Tampaknya ke mana pun kami bepergian di Bhutan, selalu ada orang yang mengantri di sepanjang jalan selama berhari-hari hanya untuk melihat sekilas beliau lewat. Banyak yang melihat beliau sebagai perwujudan Guru Padmasambhava. Sebagian berdiri menggendong anggota keluarga mereka yang sekarat di punggung mereka. Kami berhenti lagi dan lagi untuk minum teh dan makanan ringan yang disiapkan oleh penduduk setempat. Penduduk desa akan menunggu di pinggir dan begitu beliau pergi, mereka akan mengambil apa pun yang beliau tinggalkan\u2014teh atau air, sedikit makanan\u2014dan mereka akan membagi-bagi dan kadang-kadang menyimpannya selama bertahun-tahun. Teh yang tersisa akan dimasukkan ke dalam peti dan digunakan untuk membuat pil berharga atau dimasukkan ke dalam mentega untuk salep nyeri sendi. Beberapa sisa makanan akan dikeringkan dengan ramuan herbal dan, bila benar-benar diperlukan, mereka akan membakarnya untuk menghasilkan asap guna mengusir roh dan setan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-334\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/9445112999_fabde867fd_b.jpg\" alt=\"\" width=\"681\" height=\"1023\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/9445112999_fabde867fd_b.jpg 681w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/9445112999_fabde867fd_b-200x300.jpg 200w\" sizes=\"(max-width: 681px) 100vw, 681px\" \/><\/p>\n<p>Meskipun Dudjom Rinpoche adalah kakekku dan aku selalu mencintai, menghormati, dan mengagumi beliau, aku tak pernah berhubungan dengannya sebagaimana kakek yang Anda kunjungi pada waktu Thanksgiving atau Natal. Aku sangat terpukau olehnya. Aku membaca tulisan, komentar, lagu, puisi, dan instruksinya tanpa henti dan sepenuh hati. Tapi mengenang kembali masa-masa itu, aku menyadari ada beberapa momen akrab di antara kami. Misalnya, setiap kali Dudjom Rinpoche berduaan denganku, beliau akan berbicara dalam dialek Pemako, bukan bahasa Tibet biasa. Aku menyadari itulah cara beliau menjadi kakekku. Juga ketika aku lahir, jauh sebelum Yang Mulia Sakya Trizen mengenaliku sebagai seorang tulku, Kyabje Dudjom Rinpoche menamaiku Khyentse Norbu. Beberapa orang berspekulasi bahwa ini adalah petunjuk bahwa beliau mungkin sudah mengenaliku sebagai inkarnasi Khyentse. Pada saat itu Beliau sedang dalam masa menamai semua orang dengan Norbu. Beliau menamai ayahku Thinley Norbu, dan salah satu pamanku Phende Norbu dan paman lainnya Shenphen Norbu.<\/p>\n<p>Ibuku menikah dengan putra Kyabje Dudjom Rinpoche, namun aku jamin bahwa tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya bahwa Dudjom Rinpoche adalah ayah mertuanya. Tak ada dalam kamusnya. Beliau melihat Dudjom Rinpoche sebagai seorang yang melampaui duniawi, seorang yang beliau puji dan visualisasikan di atas kepala dan hatinya. Tidak diragukan lagi Dudjom Rinpoche adalah hal terakhir yang ada dalam pikirannya ketika beliau sekarat.<\/p>\n<div id=\"attachment_236\" style=\"width: 778px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-236\" class=\"size-large wp-image-236\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/IMG_6552-768x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"768\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/IMG_6552-768x1024.jpg 768w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/IMG_6552-225x300.jpg 225w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/IMG_6552-1080x1440.jpg 1080w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><p id=\"caption-attachment-236\" class=\"wp-caption-text\"><em>Ibu dan ayahku<\/em><\/p><\/div>\n<p>Dilgo Khyentse Rinpoche-lah yang benar-benar mengasuh dan merawatku terus-menerus, mungkin lebih dari anggota keluargaku sendiri. Aku bisa menemuinya kapan saja, 24 jam sehari. Sementara itu, meskipun aku adalah cucu Kyabje Dudjom Rinpoche, aku tak diberi akses mudah untuk menemui beliau. Faktanya, janji bertemu beliau sering kali sulit bagiku dan banyak orang lainnya. Suatu saat aku benar-benar patah hati dan kesal karena aku tak bisa bertemu beliau. Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche menasihatiku, karena aku telah menerima begitu banyak ajaran tantra dan abisheka dari Kyabje Dudjom Rinpoche, aku seharusnya tidak pernah melihat beliau sebagai makhluk biasa, melainkan sebagai makhluk tercerahkan atau Padmasambhava. Oleh karena itu, nenek tiriku yang merupakan pasangan Kyabje Dudjom Rinpoche juga harus dilihat dengan persepsi murni. Instruksi mendalam seperti itu tidak hanya menyelamatkanku dari pandangan salah terhadap Dudjom Rinpoche, namun juga seiring berjalannya waktu, aku semakin melihat dan menghargai serta menemukan kedalaman dan keluasan Dudjom Rinpoche.<\/p>\n<p>Selain dihormati sebagai guru hebat, Dudjom Rinpoche juga dianggap sebagai keturunan salah satu dari tiga pangeran yang diasingkan dari Tibet Tengah. Legenda mengatakan bahwa dahulu kala, raja-raja Tibet ditarik ke surga dengan seutas tali. Namun pernah ada seorang raja yang berselisih dengan salah satu menterinya dan menteri tersebut memutuskan tali sehingga raja tidak bisa naik. Sebaliknya, raja itu dibunuh dan ketiga putranya diasingkan. Dudjom Rinpoche dikatakan sebagai keturunan salah satu putra yang diasingkan ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-336\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/ladder-1-795x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"795\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/ladder-1-795x1024.jpg 795w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/ladder-1-233x300.jpg 233w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/ladder-1-768x989.jpg 768w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/ladder-1.jpg 1000w\" sizes=\"(max-width: 795px) 100vw, 795px\" \/><\/p>\n<p>Seperti para Khyentse, orang perlu tahu bahwa tak ada garis keturunan Dudjom yang berpangkat tinggi, baik politik maupun sekuler. Jadi jika ada inkarnasi Khyentse atau Dudjom sekarang atau di masa depan yang mengaku memiliki pangkat tinggi, mereka bohong. Faktanya, dalam masyarakat Tibet, di mana para biksu dihormati, ada banyak cerita tentang bagaimana Dudjom Rinpoche dianggap seorang <em>micha<\/em>, yang berarti orang awam biasa. Tapi bagaimana pun, pengetahuan beliau begitu luar biasa sehingga beliau direkrut untuk menyusun buku pelajaran sekolah Tibet. Dalam buku-buku itu, tak pernah disebutkan bahwa beliau adalah \u201ckyabje\u201d atau bahkan seorang rinpoche. Nama Beliau di situ adalah Pek\u00f6 Dudjom Tulku. Pek\u00f6 adalah kependekan dari Pemak\u00f6.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-330\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Beyul_Pemako_Trekking-Arunachal_Pradesh-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"682\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Beyul_Pemako_Trekking-Arunachal_Pradesh.jpg 1024w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Beyul_Pemako_Trekking-Arunachal_Pradesh-300x200.jpg 300w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Beyul_Pemako_Trekking-Arunachal_Pradesh-768x512.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>Beliau diabaikan oleh sebagian masyarakat tertentu juga karena beliau selalu berpikir bebas, bahkan radikal. Dikatakan bahwa, pada tahun 1950-an, ketika beliau memberikan abisheka di Biara Samye di Lhasa kepada beberapa guru Nyingma yang paling penting, beliau bepergian ke sana kemari dengan sepeda. Pada masa itu, di mata orang Tibet, seorang lama yang mengendarai sepeda, khususnya yang memberikan ajaran kepada para lama yang sangat penting, ibarat Paus Yohanes Paulus yang bermain rolet di kasino. Tapi aku yakin <em>pengabaian <\/em>itulah yang beliau inginkan: tidak menonjolkan diri, bebas dari gelar dan semua beban yang datang dari posisi tinggi.<\/p>\n<p>Tak pernah sekalipun beliau meninggikan suaranya, apalagi memarahiku. Dalam beberapa kesempatan beliau berkomentar tentang bagaimana aku harus berpakaian yang pantas karena aku dikenal ceroboh. Yang paling mendekati Beliau memarahiku adalah ketika aku menerima ajaran darinya dan entah bagaimana aku mengangkat tanganku lebih tinggi dari Trulshik Rinpoche. Kyabje Dudjom Rinpoche menyerukan harus punya rasa hormat, namun dengan cara yang sangat-sangat lembut. Kelemahlembutan ini begitu agung sehingga momen itu tetap melekat padaku hingga sekarang.<\/p>\n<p>Ada banyak orang yang tidak puas dan menyalahkan nenek tiriku karena terlalu melindungi Dudjom Rinpoche, beliau benar-benar mengatur semua pertemuan Rinpoche. Aku pernah mendengar bahwa ketika beliau berpisah dari nenekku dan memutuskan untuk tinggal bersama nenek tiriku, beberapa orang tidak senang, terutama ayahku. Tapi berkat nasihat Dilgo Khyentse Rinpoche, aku juga berusaha keras untuk punya persepsi murni terhadap nenek tiriku. Merenungkan ini, menurutku batasan yang nenek tiriku pertahankan adalah hal yang baik. Rinpoche membutuhkan kebebasan karena ada begitu banyak orang yang terus-menerus berlomba-lomba mendapatkan perhatiannya. Nenek tiriku merawat kakekku dengan sangat baik, terutama di hari-hari terakhirnya.<\/p>\n<p>Aku tak punya hubungan dekat dengan nenek tiriku sampai bertahun-tahun setelah Kyabje Dudjom Rinpoche meninggal di Prancis. Beberapa tahun sebelum nenek tiriku meninggal, beliau datang ke Bhutan dan aku mengambil kesempatan ini untuk mengundangnya ke rumahku di Paro, dan beliau dengan senang hati menerimanya. Saat makan siang itu, beliau memberiku kacamata hitamnya, yang cocok untuk wanita tua yang sangat bergaya.<\/p>\n<p>Aku harap aku pintar dan memiliki kemampuan untuk melihat mobil Defender tua atau kacamata kristal atau kacamata hitam wanita sebagai sarana untuk mengingat guru, dengan demikian mengingat dharma dan akhirnya batinku sendiri.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-328\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/days-and-nights-in-the-forest-1970-007-couple-under-tree-sunglasses-00m-mf6.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"750\" srcset=\"https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/days-and-nights-in-the-forest-1970-007-couple-under-tree-sunglasses-00m-mf6.jpg 1000w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/days-and-nights-in-the-forest-1970-007-couple-under-tree-sunglasses-00m-mf6-300x225.jpg 300w, https:\/\/mugwortborn.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/days-and-nights-in-the-forest-1970-007-couple-under-tree-sunglasses-00m-mf6-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_divider _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;||||false|false&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_divider][et_pb_post_nav _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_post_nav][et_pb_comments _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_comments][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pandanganku, kakekku Kyabje Dudjom Rinpoche adalah sosok pria yang cantik daripada tampan. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap menjadi salah satu orang paling anggun dan terawat yang pernah kulihat. Begitu banyak perhatian diberikan untuk mengikat rambutnya ke belakang. Kemeja disetrika. Kombinasi warna pakaiannya sangat sempurna. Aku mendengar banyak cerita tentang pesonanya yang cukup menarik bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3745,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"In my view, my grandfather Kyabje Dudjom Rinpoche was more of a <em>beautiful<\/em> man than a handsome one. Until the end of his life he remained one of the most elegant and well-groomed people I have seen. So much care was given to tying his hair back. His shirts were pressed. The color combinations of his outfits were impeccable. I\u2019ve heard many accounts of his charms being quite attractive to women. His rooms were immaculately clean. He had asthma and, while I may be biased, I must say that even his wheezing had an elegance to it. The way he held a page, the way he rotated a vajra, the way he beat a damaru was mesmerizing.\n\n<img class=\"aligncenter size-full wp-image-333\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/31724913218376123.jpg\" alt=\"\" width=\"710\" height=\"550\">\n\nHis defining ornament was the pair of tinted eyeglasses made of crystal that he always wore. I heard him telling people, including myself, that they should wear crystal glasses. That it was really good. In fact, Trulshik Rinpoche followed his advice and I remember him wearing crystal spectacles for his whole life. Dudjom Rinpoche had his specially cut in Hong Kong and recommended that other lamas do so as well. So not long ago when I went to Hong Kong I asked the same people to make some for me. But crystal glasses are so heavy and I just didn\u2019t have the discipline to wear them.\n\n<img class=\"aligncenter size-full wp-image-338\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/img_KTR_DR.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"463\">\n\nI have never been a car person but, having said that, when I see a Land Rover Defender I become so nostalgic for a time when I was about six, traveling from India to Bhutan with Kyabje Dudjom Rinpoche. Seeing one always stirs up strong memories and in my mind\u2019s nose there is even a unique smell. Apparently, the queen of England also has a fondness for them. Kyabje Dudjom Rinpoche made this journey at the invitation of my other grandfather, Lama Sonam Zangpo, and all in all it took several months. Mostly we travelled on foot, sometimes we travelled by palanquins, Dudjom Rinpoche supported by at least four people and me carried by two. And we went several lengths of the journey in a Land Rover Defender, in which I would be seated between Dudjom Rinpoche and the driver the whole way. It was a very memorable time because it was the only opportunity I had in my life to be close to my grandfather. I sometimes even dozed off with my head on his shoulder or lap.\n\n<img class=\"aligncenter size-full wp-image-331\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Defender.jpg\" alt=\"\" width=\"259\" height=\"194\">\n\nIt seemed everywhere we travelled in Bhutan, there were people lined up along the road for days just to get a glimpse of him passing through. Many still think he was Guru Padmasambhava in the flesh. Some stood with their dying family members on their backs. We stopped again and again for tea and snacks prepared by the locals. Villagers would wait in the wings and as soon as he departed, they would grab anything he left behind\u2014tea or water, bits of food\u2014and they would divide it up and savor it sometimes for years afterwards. The leftover tea would be put into a casket and used to make precious pills or put into butter for ointments for joint aches. Some of the leftover food would be dried with herbs and, when absolutely necessary, they would burn it to create smoke to ward off spirits and demons.\n\n<img class=\"aligncenter size-full wp-image-334\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/9445112999_fabde867fd_b.jpg\" alt=\"\" width=\"681\" height=\"1023\">\n\nWhile Dudjom Rinpoche was my grandfather and I always had love, respect, and admiration for him, I never related to him as a grandpa that you visit at Thanksgiving or Christmas time. I was in awe of him. I read his writings, commentaries, songs, poetry, and instructions endlessly and wholeheartedly. But looking back, I realize there were some moments of familiarity. For example, whenever Dudjom Rinpoche was alone with me, he would speak in Pemako dialect, not straight Tibetan. I realize that was his way of expressing grand-fatherliness. Also when I was born, long before His Holiness Sakya Trizen recognized me as a tulku, Kyabje Dudjom Rinpoche named me Khyentse Norbu. Some have speculated that this is a clue that he also may have recognized me as a Khyentse incarnation. He was going through a period of naming everyone Norbu. He named my father Thinley Norbu, and one uncle Phende Norbu and another uncle Shenphen Norbu.\n\nMy mother was married to Kyabje Dudjom Rinpoche\u2019s son but I can vouch that never once did the thought cross her mind that he was her father-in-law. It was not in her vocabulary. She saw Dudjom Rinpoche as someone beyond the mundane world, someone she praised and visualized on top of her head and in her heart. No doubt Dudjom Rinpoche was the last thing on her mind when she was dying.\n\n[caption id=\"attachment_236\" align=\"aligncenter\" width=\"768\"]<img class=\"size-large wp-image-236\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/IMG_6552-768x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"768\" height=\"1024\"> <em>My mother and father<\/em>[\/caption]\n\nIt was Dilgo Khyentse Rinpoche who really nurtured and took care of me constantly, probably more than any of my family members. I could go to him any time, 24 hours a day. Meanwhile, despite being Kyabje Dudjom Rinpoche\u2019s grandson I was not given easy access to him. In fact, getting an audience with him was made rather difficult for me and a lot of people. One time I was left really broken hearted and upset because I wasn\u2019t given an audience. Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche advised me that since I had received so many tantric teachings and abishekas from Kyabje Dudjom Rinpoche, I should never perceive him as an ordinary being, but rather as an enlightened being or Padmasambhava. And that therefore my step-grandmother who was the consort of Kyabje Dudjom Rinpoche should also be looked at with pure perception. Such profound instructions not only saved me from having even a little bit of a wrong view of Dudjom Rinpoche, but as the years go by, I see and appreciate and discover Dudjom Rinpoche\u2019s depth and breadth more and more.\n\nAside from being revered as an accomplished master Dudjom Rinpoche was thought to be the descendent of one of three princes who were banished from Central Tibet. The legend is that a long time ago, the Tibetan kings would supposedly be pulled up to heaven by a rope. But there was once a king who had a dispute with one of his ministers and the minister cut the rope so that the king could not ascend. Instead, that king was killed and his three sons were exiled. Dudjom Rinpoche is said to be a descendent of one of these exiled sons.\n\n<img class=\"aligncenter size-large wp-image-336\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/ladder-1-795x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"795\" height=\"1024\">\n\nLike the Khyentses, it\u2019s important that people know that there was no high-ranking Dudjom lineage, political or secular. So if there is any Khyentse or Dudjom incarnation now or in the future claiming to be highly-ranked, they are lying. In fact in Tibetan society, where ordained monks were esteemed, there were a lot of stories of how Dudjom Rinpoche was dismissed as a <em>micha<\/em>, which means an ordinary layperson. Nevertheless, his scholarly knowledge was so outstanding that he was recruited to put together Tibetan school textbooks. In the credits there is never a mention of him being \u201ckyabje\u201d or even a rinpoche. He was simply referred to as Pek\u00f6 Dudjom Tulku. Pek\u00f6 was short for Pemak\u00f6.\n\n<img class=\"aligncenter size-large wp-image-330\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Beyul_Pemako_Trekking-Arunachal_Pradesh-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"682\">\n\nHe was dismissed by certain parts of society also partly because he was always a free thinker, if not a radical. It\u2019s said that, in the 1950s, when he was conferring abishekas in Samye Monastery in Lhasa to some of the most important Nyingma masters, he would travel to and fro on a bicycle. In those days, in the eyes of a Tibetan, a lama riding a bicycle, especially one giving teachings to really important lamas, was like Pope John Paul playing roulette in a casino. But I am quite certain <em>dismissed<\/em> is exactly how he wanted to be treated: low-profile, free from titles and all the baggage that comes from a high standing position.\n\nNever once did he raise his voice, let alone scold me. On a few occasions he would make comments about how I should dress properly because I was known to be sloppy. The closest he ever got to scolding me was when I was receiving teachings from him and somehow I raised my hands above Trulshik Rinpoche. Kyabje Dudjom Rinpoche said to be respectful, but in a very, very gentle manner. This gentleness was so majestic that it has stayed with me all these years.\n\nThere were a lot of disgruntled people who blamed my step-grandmother for being overprotective of him, she really controlled his appointments. I have heard that when he separated from my grandmother and decided to be with my step-grandmother, some people were unhappy, especially my father. Because of Dilgo Khyentse Rinpoche\u2019s kind words, I also tried hard to also have pure perception of my step-grandmother. Looking back, I think the boundary she kept was a good thing. He needed that space because there were so many people who were constantly vying for his attention. My step-grandmother took very good care of my grandfather, especially in his final days.\n\nI didn\u2019t have a close relationship with her until many years after Kyabje Dudjom Rinpoche died in France. A few years before she herself died, she came to Bhutan and I took the opportunity to invite her to my Paro house, and she graciously accepted. During that lunch, she gave me her dark sunglasses, fitting for a very stylish older lady.\n\nI hope I am savvy and have the wit to use the sight of an old Defender or crystal spectacles or ladies\u2019 sunglasses to be a vehicle to remember the guru and therefore the dharma and therefore my own mind.<img class=\"aligncenter size-full wp-image-328\" src=\"https:\/\/mugwortborn.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/days-and-nights-in-the-forest-1970-007-couple-under-tree-sunglasses-00m-mf6.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"750\">\n\n&nbsp;","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"project_category":[85],"project_tag":[],"class_list":["post-3744","project","type-project","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","project_category-episodes-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3744","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project"}],"about":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/project"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3744"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project\/3744\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3744"}],"wp:term":[{"taxonomy":"project_category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_category?post=3744"},{"taxonomy":"project_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mugwortborn.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/project_tag?post=3744"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}